JATIMTIMES - Banyak orang bertanya-tanya, mengapa Al-Quran penuh dengan kisah? Mengapa kitab suci umat Islam lebih sering mengulang cerita tentang para nabi, umat terdahulu, dan peristiwa besar, ketimbang mengurai hukum-hukum rinci?. Pertanyaan ini menuntun pada pemahaman bahwa kisah dalam Al-Qur’an bukanlah dongeng, melainkan sarana pendidikan yang dirancang untuk menyentuh hati dan pikiran manusia.
Al-Qur’an sendiri telah lama diakui sebagai bacaan istimewa. Sejak lima ribu tahun manusia mengenal baca-tulis, tidak ada kitab yang mampu menandingi posisinya. Jutaan orang di seluruh dunia membacanya, bahkan menghafalnya huruf demi huruf, meski sebagian tidak memahami artinya. Keunikan ini menjadikan Al-Qur’an bukan hanya teks suci, tetapi juga warisan spiritual yang hidup di tengah umat.
Baca Juga : Kapan Lagi Libur Setelah 18 Agustus 2025? Ini Daftar Tanggal Merah yang Tersisa
Harun Nasution, dalam bukunya Islam Rasional, menegaskan bahwa kisah dalam Al-Qur’an memiliki peran penting yang sering kali lebih menonjol dibandingkan ayat-ayat hukum. “Kita perlu mengetahui kisah-kisah dalam Al-Qur’an agar dapat mengambil pelajaran darinya,” tulis Harun. Menurutnya, di dalam Al-Qur’an, istilah qishash disebut hingga 26 kali dalam berbagai bentuk kata. Bahkan, satu surat dinamakan Al-Qashash, yang berarti kisah-kisah.
Secara bahasa, qashash berarti “mencari jejak”. Penggunaan kata ini, misalnya pada surat Al-Kahfi ayat 64, menunjukkan makna perjalanan kembali menelusuri sesuatu. Inilah simbol bahwa kisah dalam Al-Qur’an dimaksudkan sebagai jejak peristiwa masa lalu yang dapat dijadikan ibrah atau pelajaran bagi manusia di sepanjang zaman.
Ulama tafsir Manna al-Qaththan memberikan definisi mendalam tentang qishashul Qur’an. Ia menyebutnya sebagai pemberitaan tentang umat-umat terdahulu, para nabi, serta peristiwa nyata yang terjadi secara empiris. Bagi Manna, kisah-kisah Al-Qur’an berbeda dengan catatan sejarah biasa, karena bukan sekadar menjelaskan “apa, kapan, dan di mana”, melainkan juga menyuguhkan pesan moral yang membimbing ke arah kebaikan.
Sementara itu, Hasbi Ash-Shiddieqy menyebut qishashul Qur’an sebagai kabar-kabar Al-Qur’an mengenai umat masa lalu dan kenabian terdahulu. Gaya penyampaian kisah dalam kitab suci ini begitu khas, seakan pembacanya ikut menyaksikan langsung jalannya peristiwa (shuratan nathiqah).
Karakter kisah Al-Qur’an memiliki ciri tersendiri: ia berangkat dari peristiwa nyata, selalu relevan dengan kehidupan manusia, kerap diulang di berbagai surat, namun penyajiannya tidak melulu kronologis seperti sejarah. Inilah yang membedakan kisah Al-Qur’an dari sekadar catatan peradaban.
Selain sebagai pengingat, kisah-kisah Al-Qur’an juga berfungsi sebagai media pendidikan. Penuturannya sarat dengan nilai spiritual dan moral, membimbing manusia agar mengingat Allah dan menghindari kesombongan yang pernah menghancurkan umat terdahulu.
Baca Juga : Mayat yang Tak Mau Terbakar: Kisah Terakhir Untung Surapati
Beberapa konsep pendidikan yang terkandung dalam kisah Al-Qur’an antara lain: Irsyad: memberi petunjuk jalan yang benar; Dialogis: mengajak pembaca merenung dan berdialog dengan dirinya sendiri; Hikmah dan I’tibar: menyajikan pelajaran berharga dari masa lalu.
Kemudian, Dzikra: menjadi pengingat agar manusia tidak mengulang kesalahan yang sama; Takhwif dan Tahdzir: menghadirkan ancaman dan peringatan bagi mereka yang menolak kebenaran. Dan terakhir, dengan cara itu, kisah-kisah dalam Al-Qur’an menjadi metode efektif untuk membentuk jiwa yang bertauhid, memperkokoh iman, dan menanamkan akhlak mulia.
Dari penjelasan para ulama, Harun Nasution, Manna al-Qaththan, hingga Hasbi Ash-Shiddieqy dapat disimpulkan bahwa kisah dalam Al-Qur’an bukan sekadar cerita penghibur. Ia adalah pedoman yang hidup, sarat dengan pesan agar manusia menjalankan perannya sebagai hamba Allah sekaligus khalifah yang memakmurkan bumi.
