JATIMTIMES - Selat Malaka merupakan salah satu jalur pelayaran tersibuk dan paling strategis di dunia. Letaknya yang menghubungkan Samudra Hindia dan Samudra Pasifik menjadikan selat ini sebagai urat nadi perdagangan global, terutama bagi negara-negara di kawasan Asia.
Di tengah memanasnya konflik Timur Tengah yang turut menyorot Selat Hormuz, pertanyaan mengenai siapa yang “menguasai” Selat Malaka kembali mencuat. Tak sedikit yang juga bertanya, apa dampaknya jika jalur vital ini sampai ditutup?
Baca Juga : Pendaftaran Jalur Mandiri Unair 2026 Dibuka, Ini Jadwal, Syarat, dan Cara Daftarnya
Siapa yang Mengendalikan Selat Malaka?
Secara geografis maupun hukum internasional, Selat Malaka tidak dimiliki oleh satu negara saja. Jalur ini berada dalam yurisdiksi tiga negara pesisir, yakni Indonesia, Malaysia, dan Singapura.
Masing-masing negara memiliki kedaulatan atas wilayah perairan teritorialnya. Artinya, tidak ada satu pihak pun yang bisa mengontrol penuh seluruh jalur Selat Malaka.
Dalam praktiknya, ketiga negara tersebut memiliki tanggung jawab bersama, antara lain:
• Menjaga keamanan perairan
• Menjamin keselamatan pelayaran
• Memelihara sarana dan prasarana navigasi
Selain itu, penggunaan Selat Malaka juga diatur oleh hukum laut internasional, yaitu United Nations Convention on the Law of the Sea. Aturan ini menjamin hak lintas transit bagi kapal asing, baik kapal dagang maupun militer, selama tidak mengganggu stabilitas kawasan.
Karena perannya yang sangat penting, Selat Malaka juga menjadi perhatian dunia. Negara-negara besar seperti China, Jepang, dan Amerika Serikat memiliki kepentingan besar terhadap kelancaran jalur ini, khususnya dalam distribusi energi dan perdagangan global.
Apakah Selat Malaka Bisa Ditutup?
Secara teori, penutupan Selat Malaka sangat sulit dilakukan, terlebih secara sepihak. Selain melibatkan tiga negara, langkah tersebut juga berpotensi melanggar hukum internasional.
Jika ada pihak yang mencoba menutup jalur ini, risikonya sangat besar, seperti:
• Sengketa hukum internasional
• Sanksi ekonomi
• Tindakan balasan dari negara lain
Penutupan total biasanya hanya mungkin terjadi dalam kondisi ekstrem, misalnya konflik bersenjata besar atau blokade militer di kawasan.
Dampak Besar Jika Selat Malaka Ditutup
Sebagai jalur perdagangan utama dunia, penutupan Selat Malaka akan memicu dampak luas secara global. Berikut beberapa konsekuensi yang bisa terjadi:
Baca Juga : Di Tengah Konflik Timur Tengah, Selat Hormuz atau Malaka yang Lebih Strategis bagi Dunia?
1. Krisis Energi Global
Sebagian besar pasokan minyak menuju Asia Timur melewati Selat Malaka. Sekitar 80 persen impor minyak China bergantung pada jalur ini. Jika terganggu, pasokan energi ke negara seperti China, Jepang, dan Korea Selatan bisa terdampak besar dan memicu lonjakan harga minyak dunia.
2. Gangguan Rantai Pasok Global
Kapal dari Eropa dan Timur Tengah menuju Asia Timur harus mencari jalur alternatif seperti Selat Sunda atau memutar jauh melalui selatan Australia. Hal ini akan memperpanjang waktu pengiriman dan meningkatkan biaya logistik.
3. Lonjakan Inflasi Dunia
Kenaikan biaya pengiriman otomatis berdampak pada harga barang. Produk impor di berbagai negara berpotensi mengalami kenaikan harga, yang berujung pada inflasi global.
4. Dampak Langsung bagi Indonesia
Bagi Indonesia, penutupan Selat Malaka juga bisa berdampak negatif. Distribusi ekspor-impor terganggu, sementara pelabuhan alternatif berisiko mengalami kepadatan akibat keterbatasan infrastruktur.
Selat Malaka bukan sekadar jalur laut biasa. Perannya sebagai penghubung utama perdagangan dunia menjadikannya tulang punggung ekonomi global.
Penutupan jalur ini bukan hanya sulit dilakukan, tetapi juga berisiko memicu krisis besar, bahkan dampaknya bisa setara atau lebih besar dibanding gangguan di Selat Hormuz.
Karena itu, menjaga keamanan dan kelancaran Selat Malaka bukan hanya tanggung jawab negara pesisir, melainkan juga menjadi kepentingan bersama dunia internasional.
