JATIMTIMES – Nama-nama pendiri Universitas Islam Malang (Unisma) kembali disebut di Masjid Ainul Yakin, (11/2/2026). Keluarga para almarhum dan almarhumah, pimpinan yayasan, rektorat, dosen, karyawan, hingga mahasiswa hadir dalam Haul Akbar yang digelar untuk mengenang para perintis dan keluarga besar Unisma yang telah wafat. Pertemuan itu mempertemukan generasi awal kampus dengan generasi yang kini melanjutkan estafetnya.
Haul Akbar ini secara khusus ditujukan bagi almarhum dan almarhumah pendiri Unisma, tokoh perintis, serta keluarga besar Unisma dan keluarga dari keluarga besar Unisma. Suasana berlangsung khidmat, dengan rangkaian doa dan penyampaian refleksi dari para pimpinan kampus.
Baca Juga : Diduga Terpeleset saat BAB di Sungai, Lansia Asal Lawang Malang Ditemukan Meninggal
Rektor Unisma, Prof. Dr. H. Junaidi, MPd, PhD, menyampaikan bahwa haul menjadi kesempatan untuk menyebut kembali kontribusi para pendahulu yang meletakkan dasar berdirinya kampus. Ia menegaskan bahwa doa yang dipanjatkan merupakan bentuk penghormatan atas pengabdian mereka.
“Melalui haul ini kita mendoakan para pendiri, perintis, dosen, dan karyawan yang telah wafat. Kita berharap amal baik mereka diterima Allah SWT dan segala kekhilafannya diampuni,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Junaidi mengulas kembali fase awal pendirian Unisma. Ia menceritakan bagaimana sembilan pendiri pada masa awal mengumpulkan dana pribadi sebagai modal berdirinya perguruan tinggi Islam tersebut. Keterbatasan sumber daya saat itu membuat banyak jabatan dirangkap demi memastikan lembaga tetap berjalan.
“Pada masa awal, kondisi tentu tidak seperti sekarang. Banyak keterbatasan, baik dari sisi dana maupun sumber daya manusia. Tetapi ada komitmen kuat untuk menghadirkan pendidikan tinggi Islam di Malang,” katanya.
Menurutnya, memahami sejarah awal itu penting agar generasi saat ini mengetahui bahwa perkembangan Unisma tidak lepas dari pengorbanan dan kerja keras para pendiri. Ia menyebut, posisi Unisma hari ini merupakan hasil dari proses panjang yang telah dilalui selama puluhan tahun.
Ketua Yayasan Unisma, Prof. Dr. H. Agus Sugianto, SPMP, dalam sambutannya juga mengajak hadirin menengok perjalanan kampus yang kini memasuki usia 44 tahun. Ia menyampaikan bahwa mengenang para pendiri dan perintis merupakan bagian dari menjaga kesinambungan sejarah institusi.
“Kita menjunjung tinggi jasa para pendiri dan pengabdi Unisma. Kontribusi mereka menjadi fondasi perjalanan kampus ini,” ujarnya.
Agus Sugianto mengutip falsafah Jawa mikul dhuwur mendem jero sebagai sikap dalam memaknai peran para pendahulu. Menurutnya, nilai tersebut relevan untuk menjaga hubungan baik antara kampus dan keluarga para pendiri.
Baca Juga : Kursi Besi Kayutangan Raib, DLH Kota Malang Telusuri Jejak Pelaku lewat CCTV
Ia juga menegaskan bahwa keberlanjutan visi para pendiri menjadi tanggung jawab generasi saat ini. Unisma, menurutnya, perlu terus berkembang mengikuti dinamika zaman tanpa melepaskan akar sejarahnya.
Rangkaian Haul Akbar turut diisi tausiyah oleh Romo K. H. Ihsan Nur, Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Hikmah Assalafiyah Poncokusumo, Malang. Dalam ceramahnya, ia mengingatkan pentingnya menjalankan ajaran Islam secara menyeluruh dan menjaga konsistensi ibadah di tengah perubahan sosial.
Ia mengutip peringatan Rasulullah SAW tentang datangnya masa ketika nilai-nilai Islam berpotensi tinggal simbol. Karena itu, ia menekankan pentingnya menjaga shalat berjamaah serta membiasakan keluarga memanfaatkan waktu antara Magrib hingga Isya untuk ibadah.
“Iman harus dirawat dengan amal. Disiplin dalam ibadah menjadi bagian dari menjaga diri dan keluarga,” pesannya.
Haul Akbar ditutup dengan doa bersama untuk para almarhum dan almarhumah pendiri serta keluarga besar Unisma yang telah wafat, dilanjutkan ramah tamah antara pimpinan yayasan, rektorat, keluarga pendiri, dan sivitas akademika. Pertemuan itu menjadi ruang silaturahmi yang menghubungkan kembali sejarah awal Unisma dengan perjalanan kampus hari ini.
