JATIMTIMES - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat ada ratusan gempa Bumi yang terjadi di Jatim pada penghujung Mei 2026. Dari ratusan gempa Bumi tersebut, getarannya sebagian turut dirasakan hingga di sejumlah wilayah di Jawa Timur (Jatim).
"Terjadi 157 gempa Bumi di wilayah Jawa Timur dan sekitarnya pada penghujung Mei 2026," ucap Kepala BMKG Stasiun Geofisika Malang Ricko Kardoso, Jumat (29/5/2026).
Baca Juga : Bromo Ditutup Total Mulai Besok! Wisatawan Dilarang Masuk hingga 2 Juni 2026
Secara spesifik, ratusan gempa Bumi yang terjadi pada penghujung Mei 2026 tersebut tercatat dalam sepekan. Yakni pada periode tanggal 22-28 Mei 2026. "Pada bulan ini terdapat satu kejadian gempa Bumi dirasakan," ujar Ricko.
Gempa Bumi tektonik yang dampak getarannya terasa hingga di sejumlah wilayah tersebut terjadi di tenggara Jember, Jawa Timur pada Selasa (26/5/2026). Data BMKG mengungkapkan, episenter gempa yang terjadi di tenggara Jember tersebut terletak pada koordinat 9,07° LS ; 113,82° BT. Tepatnya yakni yang berlokasi di laut pada jarak 99 km arah tenggara, Jember, Jawa Timur, pada kedalaman 14 km.
"Hasil analisis menunjukkan gempa Bumi tektonik tersebut memiliki parameter update dengan magnitudo M4,8," ujar Ricko.
Jika memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa yang terjadi di tenggara Jember tersebut merupakan jenis gempa dangkal. Penyebabnya, adanya aktivitas deformasi batuan dalam lempeng.
"Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa Bumi memiliki mekanisme pergerakan geser atau strike-slip," jelas Ricko.
Baca Juga : Jadwal MotoGP Italia 2026: Veda Ega Posisi 20 di FP1 Moto3, Fernandez Tercepat
Sebagaimana yang telah disampaikan sebelumnya, dampak gempa tektonik tersebut turut dirasakan di sejumlah wilayah termasuk di Jawa Timur. Yakni mulai dari daerah Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Kuta, Kuta Selatan, Malang, Denpasar, Blitar dan Trenggalek.
"Dampak yang dirasakan bervariasi, mulai dari getaran yang dirasakan oleh banyak orang ketika di dalam rumah, getaran yang dirasakan nyata seakan-akan ada truk yang berlalu, hingga getaran yang mengakibatkan benda-benda ringan yang digantung bergoyang," bebernya.
Berdasarkan hasil monitoring BMKG, pada saat itu tidak menunjukkan adanya aktivitas gempa susulan sesaat setelah terjadinya gempa tektonik di tenggara Jember. "Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempa bumi tersebut tidak berpotensi tsunami," pungkasnya.
