Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Pendidikan

Kolaborasi FEB Unisma dan IAI-IAPI Ungkap Jalan Terjal Profesi Akuntan

Penulis : Anggara Sudiongko - Editor : Dede Nana

28 - Apr - 2026, 14:00

Placeholder
Forum Free Program Pengembangan Profesional Berkelanjutan (PPL) dan gathering 2026, yang diselenggarakan IAI Komisariat Malang Raya berkolaborasi dengan FEB Unisma, Selasa, (28/4/2026) (Anggara Sudiongko/JatimTIMES)

JATIMTIMES - Di tengah menurunnya minat generasi muda terhadap jurusan akuntansi, pertemuan antara kampus dan organisasi profesi di Universitas Islam Malang (Unisma) justru membuka persoalan yang lebih kompleks dari sekadar rutinitas akademik. Forum Free Program Pengembangan Profesional Berkelanjutan (PPL) dan gathering 2026, Selasa, (28/4/2026), menjadi ruang untuk membaca ulang posisi akuntansi di tengah perubahan kebutuhan industri dan arah kebijakan negara.

Kegiatan yang digagas Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) Wilayah Jawa Timur Komisariat Malang Raya bersama Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unisma mempertemukan perguruan tinggi dengan organisasi profesi, termasuk Ikatan Akuntan Publik Indonesia (IAPI). Di balik pertemuan itu, muncul kegelisahan yang sama terkait jarak antara materi perkuliahan dengan realitas praktik di lapangan.

1

Ketua IAI Komisariat Malang Raya, Prof. Dr. Puji Handayati, S.E., M.M.Ak., CA., CMA., CSRS., CSRA., menilai selama ini program studi akuntansi berjalan sendiri-sendiri. Padahal, di Malang Raya terdapat sedikitnya 15 kampus dengan jurusan serupa yang seharusnya dapat saling menguatkan dalam membangun kualitas lulusan.

Baca Juga : UIN Malang Gandeng Resalat Al-Salam Mesir Bangun Gedung Tahfidz di Kampus 3

“Tujuannya adalah meningkatkan silaturahmi dan sinergisitas atas 15 kampus yang memiliki program studi akuntansi se-Malang Raya. Kami tahu bahwa sebuah keberhasilan prodi itu tidak bisa dijalankan sendiri,” ujarnya.

2

Persoalan lain muncul dari keterbatasan jumlah Kantor Akuntan Publik (KAP). Di Jawa Timur terdapat sekitar 60 Kantor Akuntan Publik dengan 17 di antaranya berada di Malang. Kondisi ini berbanding terbalik dengan kebutuhan praktik mahasiswa yang sangat bergantung pada akses magang di KAP, terlebih lagi di Malang merupakan kota pendidikan dengan banyak kampus.

Lebih lanjut Prof. Puji menjelaskan, bahwa menjadi auditor bukan jalur yang sederhana. “Sebenarnya sangat luas ya. Memang persyaratan untuk menjadi auditor itu yang memang agak sulit. Contoh misalkan sertifikasi CPA itu nggak mudah. Itu perjuangan yang luar biasa,” ungkapnya. 

Ia menambahkan bahwa lulusan yang telah mengantongi sertifikasi CPA pun belum bisa langsung mendirikan KAP karena harus melalui masa magang atau kemitraan selama dua tahun sebelum bisa menjadi mitra.

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah, khususnya Kementerian Keuangan melalui Pusat Pembinaan Profesi Keuangan. Regulasi dan pembinaan profesi dinilai masih menjadi faktor yang memengaruhi terbatasnya jumlah auditor dan KAP.

Di sisi lain, ia menegaskan bahwa peluang profesi akuntansi justru semakin terbuka seiring hadirnya berbagai program pemerintah. “Ketika pemerintah menggulirkan program Makan Bergizi Gratis, tidak hanya kebutuhan operasional saja, tetapi bagaimana satuan pelayanan itu punya akuntan yang bisa mengelola keuangan dan melaporkan secara akuntabel,” kata Guru Besar UM ini.

3

Hal serupa juga berlaku pada program Koperasi Desa Merah Putih yang dinilai membutuhkan penguatan tata kelola keuangan. “Semua unit bisnis apa pun, itu jantungnya ada di pengelolaan keuangannya. Oleh sebab itu, ini sebenarnya peluang karier bagi mahasiswa akuntansi untuk bisa berkontribusi dalam pembangunan nasional,” tambahnya.

Baca Juga : Sertijab Kepala MTsN 2 Kota Malang: Amanah Berpindah, Harapan Tetap Dijaga

Ia juga mengungkapkan bahwa ekosistem profesi akuntansi di Malang Raya cukup beragam. Anggota IAI tidak hanya berasal dari akuntan publik, tetapi juga akuntan pendidik dan praktisi keuangan seperti konsultan pajak maupun akuntan internal perusahaan. “Kurang lebih ada 300-an anggota di Malang Raya,” jelasnya.

Dekan FEB Unisma, Afifudin, S.E., M.SA., Ak., CA., CPA., melihat persoalan ini sebagai krisis persepsi yang belum sepenuhnya terselesaikan. Menurutnya, peluang luas yang dimiliki lulusan akuntansi belum terbaca dengan baik oleh calon mahasiswa.

4

“Nggih, ini adalah satu wujud implementasi kerja sama perguruan tinggi dengan profesi, baik itu IAI maupun IAPI, untuk meningkatkan kompetensi SDM di kampus agar inline dengan kondisi di lapangan,” ujarnya.

Ia menilai kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka sebenarnya telah membuka ruang bagi mahasiswa untuk lebih dekat dengan dunia industri. Namun tanpa sinergi yang kuat dengan organisasi profesi, peluang tersebut sulit dimaksimalkan.

“Ini salah satu ikhtiar kita untuk meyakinkan bahwasanya kuliah di akuntansi itu punya prospek yang sangat baik dan kompetitif, tidak hanya nasional tetapi juga internasional,” katanya.

Dari sisi praktisi, kehadiran perwakilan IAPI Jawa Timur turut memperkuat gambaran kebutuhan industri terhadap lulusan yang siap kerja. Sementara partisipasi sejumlah kampus seperti Universitas Negeri Malang, UIN Maliki Malang, Politeknik Negeri Malang, Universitas Muhammadiyah Malang, STIE Asia hingga Universitas Merdeka Malang menunjukkan bahwa kesadaran kolektif mulai terbentuk.


Topik

Pendidikan unisma feb unisma ikatan akuntan indonesia akuntansi ikatan akuntan publik indonesia



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Bojonegoro Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Anggara Sudiongko

Editor

Dede Nana

Pendidikan

Artikel terkait di Pendidikan