Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Pendidikan

UB Sulap Limbah Dapur MBG Jadi Cuan, Dorong Ekonomi Sirkular dan Pangkas Sampah

Penulis : Binti Nikmatur - Editor : Sri Kurnia Mahiruni

10 - Apr - 2026, 19:22

Placeholder
Suasana diskusi Badan Inovasi dan Transformasi Sosial (BITS) FISIP UB. (Foto: istimewa)

JATIMTIMES - Universitas Universitas Brawijaya (UB) menggagas inovasi baru yang berpotensi mengubah limbah dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi sumber nilai ekonomi.

Melalui Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), UB menyiapkan skema pengolahan limbah organik dapur MBG menjadi pakan ternak. Program ini diharapkan tidak hanya menekan volume sampah makanan, tetapi juga mendorong ekonomi sirkular di wilayah Malang dan sekitarnya.

Baca Juga : Warga Batu Dihantui Bencana: Dulu Apel Jadi Resapan, Kini Jalanan Desa Berubah Jadi Parit Banjir

Inisiatif tersebut digarap bersama Badan Gizi Nasional (BGN) Kota Malang melalui Satuan Pelayanqan Pemenuhan Gizi (SPPG), serta kelompok peternak yang tergabung dalam Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Program ini disebut menjadi yang pertama di Indonesia.

Pada tahap awal, uji coba akan dilakukan di empat dapur MBG dengan melibatkan peternak lele, kambing, dan domba di kawasan Singosari.

Ketua Badan Inovasi dan Transformasi Sosial (BITS) FISIP UB, Syahirul Alim, mengatakan program ini lahir dari dua persoalan yang selama ini menjadi perhatian, yakni tingginya volume limbah dapur dan kebutuhan penerapan ekonomi sirkular.

“Limbah MBG itu bisa diputar jadi rupiah. Caranya diolah menjadi pakan ternak, lalu hasil ternaknya bisa kembali diserap dapur atau dijual ke pasar. Ini konsep win-win antara dapur dan peternak,” ungkap Syahirul. 

Menurut dia, pola kerja sama nantinya akan diformalkan melalui kontrak antara pengelola dapur MBG dengan BUMDes maupun peternak.

Limbah organik seperti nasi, sisa sayuran, dan bahan makanan lain akan diproses menjadi pakan ternak dalam berbagai bentuk. Mulai dari maggot, pelet, hingga pakan langsung, menyesuaikan jenis ternak yang dibudidayakan.

“FISIP UB berperan sebagai fasilitator. Kami menjembatani kontrak, alur distribusi limbah, hingga penyaluran hasil ternak. Termasuk jika dibutuhkan alat pengolahan, akan kami upayakan,” jelasnya.

Syahirul menambahkan, program ini diharapkan menjadi model pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular yang dapat direplikasi di daerah lain.

Selain membantu mengurangi beban tempat pembuangan akhir (TPA), program tersebut juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat, khususnya kelompok peternak dan desa.

Sementara itu, Koordinator Wilayah BGN Kota Malang, M. Atho’illah, menyambut positif gagasan tersebut. Ia mengungkapkan, satu dapur MBG rata-rata menghasilkan sekitar 5 hingga 10 kilogram limbah makanan setiap hari.

Dengan jumlah SPPG aktif di Kota Malang yang saat ini mencapai 74 unit dan ditargetkan bertambah menjadi 84 hingga 87 unit, potensi limbah yang dapat diolah dinilai sangat besar.

“Kalau limbah bisa disalurkan menjadi sesuatu yang bernilai ekonomis, tentu sangat baik. Selama ini limbah makanan memang menjadi tantangan tersendiri,” ujarnya.

Baca Juga : Iran Pasang Tol Bitcoin di Selat Hormuz, Kapal Bermuatan Minyak Wajib Bayar Segini

Atho’illah menjelaskan pihaknya membuka peluang kolaborasi lebih luas dengan UB maupun kelompok peternak, selama ada mekanisme evaluasi dan pelaporan yang jelas.

“Kami mendukung selama hasilnya jelas dan bisa dipertanggungjawabkan. Harapannya limbah SPPG bisa dimanfaatkan optimal dan tidak menimbulkan masalah ke depan,” katanya.

Di sisi lain, Kepala SPPG Sukoharjo 1 Klojen, Muhammad Wisam Anugrah, menilai inovasi tersebut bisa menjadi solusi konkret bagi pengelolaan limbah dapur sehari-hari.

“Jika limbah dapur bisa diolah menjadi pakan ternak, ini sangat membantu kami. Selain mengurangi beban sampah, juga memberi nilai tambah dari sisi ekonomi,” papar Wisam.

Respons positif juga datang dari pihak BUMDes. Pengelola BUMDes Ardiles, Desa Ardimulyo, Singosari, Misbahul Munir, optimistis program ini akan berdampak langsung terhadap pendapatan peternak.

Menurutnya, pemanfaatan limbah nasi dan sayur dari dapur MBG dapat memangkas biaya pakan yang selama ini cukup tinggi karena masih bergantung pada pakan pabrikan.

“Program ini sangat menarik. Limbah sayur dan nasi bisa mengurangi biaya pakan yang selama ini bergantung pada pakan pabrikan. Kalau berjalan baik, ini sangat menguntungkan bagi kami,” kata Munir.

Ia berharap sinergi antara akademisi, pemerintah, dan pelaku usaha desa dapat berjalan berkelanjutan agar manfaat ekonomi yang dihasilkan semakin luas.

“Harapannya limbah dari SPPG bisa terserap, peternak mendapat manfaat, dan omzet kami juga meningkat. Yang penting skemanya saling menguntungkan,” harap Munir.


Topik

Pendidikan UB Universitas Brawijaya Limbah Dapur MBG Ekonomi Sirkular Sampah



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Bojonegoro Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Binti Nikmatur

Editor

Sri Kurnia Mahiruni