GSN Foundation Ajak Revolusi Hutan untuk Atasi Banjir di Bojonegoro | Bojonegoro TIMES

GSN Foundation Ajak Revolusi Hutan untuk Atasi Banjir di Bojonegoro

Dec 03, 2020 17:46
Gading Satrio Utomo, manajer program Green Star Nusantara Foundation.
Gading Satrio Utomo, manajer program Green Star Nusantara Foundation.

Hujan lebat dengan intensitas tinggi yang beberapa hari ini mengguyur wilayah Bojonegoro hingga mengakibatkan banjir bandang di beberapa lokasi menjadi perhatian salah satu organisasi lingkungan di Bojonegoro.  Yakni Green Star Nusantara (GSN) Foundation.

Perhatian GSN Foundation terungkap karena di penghujung tahun 2020 ini, setidaknya ada 4 wilayah di Bojonegoro yang terdampak banjir. Yakni Kecamatan Sukosewu, Kecamatan Dander, Kecamatan Sekar, dan Kecamatan Malo.

Baca Juga : Masih Ditemukan Sampah saat Normalisasi, DPUPRPKP Ingatkan Imbasnya

Lalu ada dua penambahan wilayah terdampak untuk tahun ini. Yaitu Kecamatan Sekar dan Kecamatan Malo. Tahun tahun sebelumnya, kedua kecamatan itu belum pernah mengalami banjir bandang yang tergolong besar seperti beberapa hari lalu.

Untuk Kecamatan Dander, banjir melanda Desa Kunci. Di Kecamatan Sukosewu, banjir terjadi di beberapa desa yang dilintasi aliran anak Sungai Pacal. Daerah-daerah itu sudah sering menjadi langganan banjir setiap tahun. Banjir terjadi akibat meluapnya  DAS Pacal dan  kiriman air dari dalam hutan sehingga menggenangi beberapa desa di kecamatan tersebut.

Hal ini menjadi sorotan GSN Foundation sebagai salah satu NGO yang bergerak pada pelestarian lingkungan, Gading Satrio Utomo, manajer program GSN Foundation, sangat prihatin akan terjadinya banjir yang melanda kawasan Bojonegoro yang pada tahun ini karena kawasan terdampak bertambah.

"Kami sangat prihatin dengan bencana banjir yang melanda kawasan Bojonegoro ini. Dari sini kita bisa melihat bahwa kawasan penyangga keseimbangan alam di Bojonegoro sudah semakin rusak dan harus cepat dilakukan langkah konkret dengan gerakan bersama. Kolaborasi antara masyarakat, komunitas peduli lingkungan dan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro," ujar pria kelahiran Margomulyo itu.

Dari hasil analisis sementara GSN Foundation, kawasan hutan di Bojonegoro banyak yang gundul sehingga daerah tangkapan air tidak bisa maksimal dalam membendung air yang berada di kawasan hutan. Akibatnya,  tahun ini banyak kawasan Bojonegoro menerima kiriman air dari kawasan hutan.

Melihat kurang lebih 40 persen  kawasan geografis Bojonegoro adalah kawasan hutan. Namun saat ini pohon-pohon penyangga keseimbangan banyak yang mengalami penggundulan secara liar. Sehingga adanya bencana ini dapat menjadi pengingat bagi kita semua agar segera melakukan reboisasi atau penanaman hutan kembali agar semakin banyak lagi tegakan pohon di kawasan hutan Bojonegoro.

Baca Juga : Peringati Hari Menanam, Bupati Bojonegoro Ajak Warga Peduli Lingkungan

Selain program normalisasi yang sudah digalakkan oleh Bupati Bojonegoro Hj Anna Muawanah, GSN Foundation juga berharap Pemerintah Kabupaten Bojonegoro menggalakkan program reboisasi hutan agar hutan Bojonegoro memiliki fungsi baik sebagai penyeimbang lingkungan.

"Kami berharap Ibu Anna Muawanah dapat menggalakkan program reboisasi hutan Bojonegoro untuk kembalinya penyangga keseimbangan alam kita. Kami siap mengawal dan berkontribusi untuk kelestarian lingkungan bersama pemerintah," imbuh Gading.

Tahun ini GSN Foundation telah membagikan dan menanam lebih dari 5.000 pohon untuk Bojonegoro. Fokus penanamannya di kawasan sumber mata air dan daerah kawasan industri migas di Bojonegoro.

 

Topik
Green Star Nusantara GSN Foundation bojonegoro banjir

Berita Lainnya