Foto korban dan penasehat hukumnya. (Foto: Dokumen JatimTIMES)
Foto korban dan penasehat hukumnya. (Foto: Dokumen JatimTIMES)

Sidang tuntutan kasus penganiayaan dengan terdakwa mantan Kepala Desa Jatimulyo, Kecamatan Tambakrejo, Kabupaten Bojonegoro, Teguh Widarto digelar pada Kamis (19/11/2020). Jaksa penuntut umum (JPU) Bambang Tejo S menuntut terdakwa dengan 3 bulan kurungan penjara.

Seperti diketahui, terdakwa melakukan tindak penganiayaan pada Sri Andani. Atas tuntutan JPU, korban yang merupakan kakak kandung terdakwa merasa tidak puas. 

Baca Juga : Seorang Guru di Kabupaten Kediri Diamankan Polisi, Dilaporkan Penipuan Rekrutmen PNS

Menurut Sri Andani, tuntutan itu terlalu ringan dan tidak sebanding dengan peristiwa yang dialaminya. Dia meminta kebijakan dari majelis hakim.

Selain itu jika dalam putusan nanti dinilai tidak sesuai harapan, korban berencana menyusun laporan ke Jaksa Agung Muda Bidang Pengawasan (Jamwas). Hal itu disampaikan penasehat hukum korban Farid Rudiantoro kepada awak media.

"Kalau tuntutannya seperti itu saya kira miring (ringan) lah. Kalau nanti pada putusan tidak sesuai harapan klien saya, saya akan melaporkan ini ke Jamwas, Bawas, Ombudsmen, dan Komisi III," kata Farid Rudiantoro, Kamis (19/11/2020).

Farid menduga ada ketidakadilan yang dialami oleh kliennya dalam proses hukum yang saat ini tengah berlangsung. Dengan cara memberikan laporan kepada lembaga pengawas tersebut, ia berharap mereka mengetahui apa yang terjadi dalam penegakan hukum di bawah.

Ada beberapa faktor yang mendorong kecurigaan penasehat hukum terhadap proses hukum yang terjadi. Seperti dalam uraian putusan yang disusun oleh JPU, hal-hal yang memberatkan terdakwa tidak dimasukkan dalam tuntutan.

"Dampak luka-luka hingga harus di-opname beberapa hari ini tidak dijadikan pertimbangan oleh JPU," jelas Farid.

Ia malah heran, JPU lebih menekankan sisi kemanusiaan terhadap terdakwa dan tidak melihat korban juga perlu keadilan terhadap apa yang dialaminya.

Dengan tuntutan yang dinilai ringan tersebut, ia saat ini berharap kepada kebijaksanaan Majelis Hakim. Harapannya hakim bisa memberikan putusan yang lebih berat dari tuntutan JPU.

"Klien saya ini bingung mau mencari keadilan bagaimana,  Semoga hakim memberikan putusan lebih berat di atas 4 bulan," harapnya.

Baca Juga : Tak Tahan Diejek, Pria di Malang Bacok Tetangga hingga Tewas

Farid melanjutkan, dalam hal penganiayaan terhadap perempuan Jaksa juga tidak memasukkan pasal perlindungan terhadap perempuan. Belum lagi permasalahan tahanan rumah yang dirasakan adanya perlakuan khusus.

Menurutnya jika dibandingkan dengan kasus penganiayaan serupa, terdakwa tidak pernah mendapatkan tahanan rumah, sedangkan untuk kasus ini berbeda. Bahkan kliennya mengetahui dalam massa tahanan rumah, terdakwa masih bebas berkeliaran.

“Coba kalian bandingkan dengan kasus penganiayaan lain, apa ada tahanan rumah?” keluhnya. 

Seperti diberitakan sebelumnya, kasus dugaan penganiayaan oleh terdakwa Teguh Widarto yang merupakan adik kandung korban Sri Andani ini terjadi pada bulan Juli lalu.

Korban yang saat itu takziah di rumah tetangga mendapatkan pukulan di wajah hingga luka-luka, dan dirawat beberapa hari di puskesmas setempat. Korban akhirnya memilih melanjutkan jalur hukum karena tidak ada itikad baik dari terdakwa, agar terdakwa mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Sidang selanjutnya dengan agenda pembelaan dari terdakwa akan digelar pada Kamis minggu depan.