Surfer Malang Selatan, Joni saat ditemui di Joni Surf Camp, Pantai Wedi Awu, Desa Purwodadi, Kecamatan Tirtoyudo, Kabupaten Malang, Jumat (14/8/2020). (Foto: Tubagus Achmad/MalangTimes)
Surfer Malang Selatan, Joni saat ditemui di Joni Surf Camp, Pantai Wedi Awu, Desa Purwodadi, Kecamatan Tirtoyudo, Kabupaten Malang, Jumat (14/8/2020). (Foto: Tubagus Achmad/MalangTimes)

Lepas dari jeratan belenggu narkoba merupakan hal yang sangat susah untuk dilakukan oleh pecandu berat. Dapat bebas dari jeratan tersebut hanya saja akan merasakan kesakitan yang luar biasa.

Tetapi stigma tersebut dipatahkan oleh Joni yang merupakan warga Desa Purwodadi, Kecamatan Tirtoyudo, Kabupaten Malang. Joni yang sehari-hari hidup di pesisir Pantai Bowele (Bolu-bolu, Wedi Awu dan Lenggoksono) ini mengungkapkan bahwa dulu dirinya sempat terjerat lembah hitam narkoba bersama para pemuda di sekitar desa tersebut. 

Baca Juga : Quraish Shihab Paparkan Keindahan Rupa dan Perangai Nabi Muhammad

"Dari luar daerah itu tiga tahun lalu ada anak membawa narkoba. Anak-anak sini kena racun itu," ungkapnya ketika ditemui MalangTIMES di Joni Surf Camp, Pantai Wedi Awu, Jumat (14/8/2020). 

Dari kejadian tersebut banyak pemuda di sekitar Pantai Wedi Awu teracuni dan kecanduan narkoba. Tetapi dengan adanya kegiatan olahraga surfing atau berselancar, dikatakan oleh Joni bahwa para pemuda yang sebelumnya kecanduan narkoba dapat berkurang drastis dengan kegiatan berselancar. 

"Selain berselancar, dengan adanya pariwisata mereka bisa menjadi guide nganter ke Banyu Anjlok, Wedi Awu, Bolu-bolu dan mereka melakukan hal-hal yang positif dengan adanya pariwisata," ungkapnya. 

Joni pun mengatakan bahwa terdapat seseorang yang begitu berpengaruh dengan perubahan para pemuda di sekitar Pantai Bowele (Bolu-bolu, Wedi Awu dan Lenggoksono) yang datang pada tahun 2015. Dari awalnya kecanduan narkoba, hingga sekarang aktif alias ketagihan berolahraga selancar. 

"Yang membawa pengaruh besar kesini ya Pak Santos (Bawon Santoso, red). Dia pernah bikin event juga, bikin macet juga, kayak lomba mancing dan kompetisi-kompetisi surfing," terangnya. 

Sedangkan hal yang tidak dapat dilupakan oleh Joni yakni ketika Santos memberikan papan surfing seharga jutaan rupiah kepada pemuda di sekitar Pantai Bowele dengan cuma-cuma. 

"Anak-anaknya dikasih papan surfing (selancar, red) gratis dan itu nggak murah. Satu bijinya bisa Rp 7 juta, Rp 9 juta, kebanyakan dari Jepang juga, itu harganya Rp 10 juta keatas, dikasihkan cuma-cuma," bebernya. 

Pemberian papan selancar tersebut tidak berbayar, tetapi ada syarat yang harus dilakukan oleh pemuda yang menerima papan tersebut. Syaratnya, Joni dan kawan-kawan harus rajin dan giat belajar berselancar maupun sekolah. 

Baca Juga : Dari Hobi Pelihara Koi, Mahasiswa Unikama Ini Sebulan Raup Untung Bersih Rp 5 Juta

"Asalkan harus rajin selancar, harus sekolah dan belajar. Kalau muslim ya ke madrasah, musala, kalau kristen minggu harus ke gereja. Yang penting harus melakukan hal-hal yang bagus, jangan bermain dengan narkoba dan minum alkohol," jelasnya. 

Dari berselancar dan pariwisata ini lah turis mancanegara juga sering beberapa waktu datang untuk mengunjungi Pantai Bowele. Disampaikan Joni bahwa sebelum adanya pandemi Covid-19, rutin seminggu atau sebulan sekali turis dari mancanegara, khususnya Jepang datang ke Pantai Bowele.

"Salah satunya ini, yang buat Joni Surf Camp saya dengan orang Jepang namanya Yoshaka Moto Yori Nobu," ujar pria yang mulai menggeluti selancar sejak umur 8 tahun.

Dengan begitu, pemuda terfasilitasi dengan adanya kegiatan olahraga berselancar dan tidak terjerumus kembali ke lembah hitam narkoba. Karena sangat merusak masa depan para pemuda, khususnya yang bertempat tinggal di sekitar Pantai Bowele. 

Hingga kini Joni pun terus mengajari para anak-anak agar aktif berolahraga selancar. Sehingga keaktifan tersebut membuahkan prestasi yang dapat mengharumkan nama pribadi maupun kawasan wisata Pantai Bowele.