Ilustrasi (Istimewa).
Ilustrasi (Istimewa).

Ustadz Khalid Basalamah dalam sebuah kajian menyampaikan, Kakbah pertama kali dibangun oleh Nabi Adam bersama anaknya yang bernama Syits. Namun saat terjadi kiamat kecil di zaman Nabi Nuh, Kakbah turut hancur dan hanya tinggal pondasinya saja.

Hingga pada akhirnya turun perintah dari Allah SWT untuk membangun kembali Kakbah. Perintah itu turun kepada Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail setelah datangnya perintah untuk menyembelih hewan kurban.

Baca Juga : Tren Frozen Food Produk Hewani, Halalkah? Dikupas Tuntas UIN Malang

Namun jauh sebelum perintah itu turun, Nabi Ibrahim mendapatkan perintah dari Allah SWT untuk meninggalkan istri dan anaknya Isma yang masih berusia bayi di Makkah.

Perintah Allah SWT kepada Nabi Ibrahim saat itu adalah, "Tinggalkan istrimu Hajar di sana bersama Ismail, dan pulanglah ke Palestina."

Saat itu, Nabi Ibrahim meninggalkan istrinya bersama Ismail anaknya di tengah gurun pasir yang sangat gersang. Tak ada kehidupan sama sekali di sana, dan cuaca begitu sangat panas.

Sampai pada saat menjelang malam, Hajar mencoba mencari kehidupan dan bukit terdekat adalah Shafa dan Marwah. Hajar naik ke gurun Shafa dan dia melihat ada air di gurun Marwah. Maka dia menuruni gurun Shafa dan menuju gurun Marwah.

Namun saat di gurun Marwah, dia tak menemui air. Di sana dia melihat ada air di gurun Shafa. Dia pun berlari menuju ke Shafa dan terus diulang sampai tujuh kali dan berakhir di Marwah.

Hajar menyadari jika tak ada air. Sehingga ia kembali menghampiri Ibrahim yang ia tinggalkan bersama untanya. Betapa kagetnya Hajar, di bawah telapak kaki Ismail terdapat sumber air.

Beberapa ulama menyebut jika sumber air itu berasal dari pijakan kaki unta Ismail. Sebagian lagi berpendapat jika sumber itu asalnya adalah dari kaki Ismail yang dihentakkan ke tanah saat Ismail menangis. Namun kedua pendapat itu masih lemah.

Pendapat yang kuat menyebut jika saat Ismail menangis, Malaikat Jibril datang dan mengepakkan sayapnya. Sehingga mata air itu muncul.

Melihat air muncul, maka Hajar membuat bendungan kecil sembari berdoa. Saat itu dia mengatakan 'Zam-zam', yang dalam bahasa Indonesia artinya adalah 'berkumpulah - berkumpulah'.

Tak lama, datanglah orang dari Negeri Yaman ke Negeri Syam. Jumlah mereka ada ratusan dan mereka berasal dari suku Arab bernama Suku Jurhum. Mereka pindah karena daerah mereka yang subur nikmatnya telah dicabut oleh Allah SWT menjadi daerah yang gersang.

Saat melihat Hajar bersama Ismail duduk di samping sumber mata air, maka rombongan orang tersebut berkata jika mereka ingin tinggal di sana. Itu menjadi jawaban doa dari Nabi Ibrahim agar ada yang menemani istrinya Hajar dan anaknya Ismail yang saat itu masih bayi.

Maka pemimpin Suku Jurhum meminta izin kepada Hajar untuk tinggal di dekat mata air tersebut. Kepala suku itu berjanji akan mendirikan sebuah komunitas. Karena mereka memiliki hewan ternak juga keahlian bercocok tanam.

Maka singkat cerita, Kota Makkah tersusun sebagai sebuah kota kecil saat itu. Ismail pun tumbuh bersama suku Jurhum itu dan menikah dengan anak dari suku Jurhum. Saat setelah menikah, Nabi Ibrahim pun mendapat utusan dari Allah SWT untuk kembali ke Makkah.

Saat itu, Nabi Ibrahim hendak menemui anaknya. Namun Ismail tengah berburu, dan Nabi Ibrahim pun bertanya kepada istri Ismail kemana anaknya tersebut pergi. Dijawab lah jika suaminya tengah berburu dan akan kembali dalam waktu satu bulan.

Baca Juga : Disebutkan dalam Al-Qur'an, Ini Burung yang Haram Dibunuh Manusia

Lalu Nabi Ibrahim bertanya kembali tentang kehidupan mereka, dan istri Ismail hanya mengeluarkan keluhan atas hidupnya yang susah. Maka Nabi Ibrahim menitipkan pesan agar Ismail mengganti tiang pintu rumahnya.

Istilah itu merujuk pada pesan agar Ismail menceraikan istrinya. Lalu istri pertama Ismail pun dipulangkan ke rumahnya. Bulan berikutnya, Nabi Ibrahim kembali mendatangi kediaman Ismail.

Lagi-lagi saat itu Ismail tengah berburu. Nabi Ibrahim pun saat itu bertemu dengan istri ke dua Ismail yang baru saja dinikahi dari kalangan rakyat suku Jurhum. Nabi Ibrahim kembali bertanya dengan kehidupan yang dilewati bersama Ismail.

Sang istri Ismail menyampaikan dengan penuh pujian kepada Allah SWT. Nabi Ibrahim saat itu berpesan kepada istri Ismail agar Ismail mempertahankan tiang pintu rumahnya. Di mana pesan itu berarti jika dia diminta untuk mempertahankan rumah tangganya.

Tak lama, Ismail kemudian bertemu dengan ayahnya Nabi Ibrahim. Nabi Ibrahim saat itu telah mendapat petunjuk dan perintah lewat mimpi untuk membunuh anak kedatangannya tersebut.

Keduanya pun sepakat menjalankan perintah Allah SWT dan pergi ke gunung Mina. Di sana, keduanya diganggu setan dan Nabi Ibrahim melemparkan tujuh kerikil ke arah setan tersebut hingga pada tiga titik. Setan itu kemudian tak lagi menganggu keduanya.

Saat tiba di tempat sembelihan, Nabi Ibrahim dan Ismail pun sama-sama pasrah. Saat Nabi Ibrahim hendak ayunkan pedangnya, datanglah Malaikat Jibril yang kemudian memegang tangan Nabi Ibrahim. Kemudian mengganti Ismail dengan seekor domba yang sangat besar.

Setelah itu, Nabi Ibrahim dan Ismail pun diperintahkan Allah SWT untuk membangun Kakbah. Maka keduanya membangun Kakbah pada pondasi yang telah dibangun Nabi Adam dan Syits.

Saat itu, Nabi Ibrahim meminta agar Nabi Ismail mencarikan batu untuk memperkokoh pondasi Kakbah. Sampai akhirnya Nabi Ismail memperoleh Hajar Aswat yang diberikan Allah SWT. Dipasanglah Hajar Aswat di posisi sampai yang saat ini kita ketahui.

Setelah itu, Nabi Ibrahim mendapatkan perintah untuk mengajak seluruh orang beriman di dunia untuk melaksanakan ibadah haji. Sebagian riwayat menyebut saat itu Nabi Ibrahim naik ke gunung paling tinggi dan sebagian lagi berpendapat Nabi Ibrahim naik ke atas Kakbah.

Di sana Nabi Ibrahim berteriak dan mengajak orang beriman untuk melaksanakan ibadah haji. Suara Nabi Ibrahim diyakini dibawa oleh angin dan didengar oleh orang-orang beriman di seluruh penjuru dunia. Hingga akhirnya banyak orang berdatangan untuk melaksanakan ibadah haji.

"Dan semua rangakaian kegiatan yang dilaksanakan Nabi Ibrahim bersama keluarganya dilaksanakan saat melaksanakan ibadah haji," terang Ustadz Khalid Basalamah.