Ilustrasi (Istimewa).
Ilustrasi (Istimewa).

Catatan sejarah Islam menyebut, terdapat seorang ulama ternama di Makkah yang selalu menolak kedudukan tinggi yang ditawarkan khalifah. Dia adalah Sufyan at-Tsauri, ulama ternama yang juga dikenal sebagai pribadi yang wara atau berhati-hati.

Ustadz Khalid Basalamah dalam sebuah kajian menyampaikan, Sufyan at-Tsauri memiliki julukan sebagai orang yang suka sujud. Dia tak pernah bangun dari sujudnya sampai hajatnya dikabulkan oleh Allah SWT.

Baca Juga : Gus Baha: Problem Kita Sekarang ini Biasa Didikte Orang Bodoh

Suatu ketika, khalifah memintanya menjadi seorang hakim. Kedudukan yang amat luar biasa dan mendapat berbagai keistimewaan. Namun Sufyan at-Tsauri menolak meski dia seorang ulama yang memahami permasalahan masyarakat dan hanya dia yang bisa menduduki posisi itu.

Dengan santun dia berkata, “Saya tidak bisa dan saya khawatir dihisab oleh Allah SWT jika saya berhukum yang salah.”

Sufyan akhirnya tetap menolak dan melarikan diri menggunakan jubah meninggalkan Makkah sampai hendak tiba di Yaman. Selama tiga bulan lamanya ia berjalan kaki dan dia tiba disebuah kebun kurma. Di sana dia menawarkan diri untuk bekerja di kebun kurma tersebut dengan menerima upah layaknya pegawai lainnya.

Setelah tiga bulan kemudian, sang pemilik kebun kurma bertanya tentang siapa dirinya. Maka ia menjawab, “Saya Abdullah.”

Dia mengatakan jika ia hamba Allah dan tak menyebut namanya untuk menghindari khalifah. Namun sang pemilik kebun menangkap jika Abdullah adalah namanya.

Sang pemilik kebun pun bertanya kepada Sufyan at-Tsauri tentang perbedaan kurma miliknya dan kurma milik orang lain.

Maka ulama besar itu menjawab, “Saya tidak tahu karena saya tidak pernah mencicipi sedikitpun dari kurma Anda.”

Maka pemilik kurma merasa heran, dan berkata, "Apakah engkau hendak meniru kehormatan ibadah Sufyan at-Tsauri?" Sang pemilik kebun kurma tak mengetahui jika yang ia ajak bicara adalah Sufyan at-Tsauri.

Baca Juga : Kisah Lucu Nabi Palsu Saat Hendak Meniru Mukjizat Rasulullah SAW

Sufyan at-Tsauri pun terdiam dan meninggalkan kebun. Saat itu khalifah memang memerintahkan untuk mencari sosok Sufyan at-Tsauri. Ketika pemilik kebun kembali ke kebunnya bersama temannya yang mengetahui ciri Sufyan at-Tsauri, maka Sufyan at-Tsauri sudah tak lagi di sana.

Singkat cerita, tiga bulan pasca meninggalkan kebun kurma, atau total enam bulan setelah pelariannya, Sufyan at-Tsauri kembali ke Makkah dan disambut hangat masyarakat di sana. Karena dia adalah ulama besar di Makkah.

Khalifah yang mengetahui Sufyan at-Tsauri kembali pun dikabarkan hendak membunuh sendiri Sufyan at-Tsauri dengan tangannya. Saat mendengar kabar itu, Sufyan at-Tsauri melakukan sujud di depan Kakbah dan melaksanakan salat dua rakaat. Sampai saat sahabatnya melakukan tafaw ke tujuh, Sufyan at-Tsauri belum selesai sujud. Maka sang sahabatnya pun duduk disampingnya dan menyaksikan Sufyan at-Tsauri melakukan sujud yang ke dua.

Selesai salat, Sufyan at-Tsauri mendatangi kakbah dan memegang kainnya serta berkata, “Saya bersumpah atas nama-Mu wahai Tuhanku. Jangan biarkan khalifah ini untuk masuk ke Makkah.”

Maka dikisahkan jika sang khalifah sebelum memasuki Makkah sempat melakukan kemah dan meninggal dunia sebelum masuk ke Makkah.

"Takutnya Sufyan at-Tsauri kepada sang pencipta melebihi dari takutnya kepada manusia dan pemimpinnya," kata Ustadz Khalid.