Rektor ITN Malang Dr Ir Kustamar MT. (Foto: Ima/MalangTIMES)
Rektor ITN Malang Dr Ir Kustamar MT. (Foto: Ima/MalangTIMES)

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) tak ingin kampus menjadi cluster terbaru penyebaran Covid-19. 

Meski demikian, tahun akademik tetap dimulai sesuai dengan kalender yang sudah disusun oleh masing-masing perguruan tinggi.

Baca Juga : Unisba Blitar Dorong Solusi Ekonomi bagi Masyarakat Terdampak Covid-19

Untuk itu, Kemendikbud telah memutuskan metode pembelajaran di perguruan tinggi pada semua zona wajib dilaksanakan secara daring untuk mata kuliah teori. 

Sementara untuk mata kuliah praktik juga sedapat mungkin tetap dilakukan secara daring. 

Namun, jika tidak dapat dilaksanakan secara daring maka mata kuliah tersebut diarahkan untuk dilakukan di bagian akhir semester.

Menindaklanjuti keputusan itu, Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang baru memperbolehkan mahasiswa masuk pada bulan Desember 2020 mendatang. 

Hal ini disampaikan oleh Rektor ITN Malang Dr Ir Kustamar MT.

"Kita menarik mahasiswa ke kampus itu sekitar bulan Desember baru kita ajak masuk," ucapnya belum lama ini.

Mahasiswa yang boleh ke kampus di bulan Desember tersebut adalah mahasiswa-mahasiswa semester akhir. 

Sementara untuk mahasiswa baru tetap daring sampai akhir semester.

"Karena transisi kita utamakan (mahasiswa) yang semester-semester akhir yang mau lulus pada Februari-Maret nanti. Kalau yang mahasiswa baru belum, sampai semester depan 2020-2021. Itu semua sama peraturannya," terangnya.

Sebab, seperti yang diketahui, pemerintah mengharuskan semester yang akan datang masih full daring. 

Akan tetapi, di akhir semester ganjil bisa digunakan untuk konsultasi tugas akhir, untuk mengerjakan tugas di lab, dan lain-lain di kampus.

"Itu sengaja kita posisikan pada bulan Desember awal," imbuhnya.

Baca Juga : Bulan Bung Karno, Wali Kota Santoso Letakkan Batu Pertama Pembangunan Gedung Kampus AKB

Kustamar mengungkapkan, kampus ingin membangun kepercayaan bahwa dosen dan mahasiswa aman berada di kampus. 

Lalu orang tua mahasiswa juga percaya bahwa anaknya nanti tidak akan bermasalah di kampus. Maka dari itu, hal itu perlu dibiasakan.

Sementara, pembiasaan untuk daring diberikan kepada selain mahasiswa akhir. 

Ospek atau pengenalan kehidupan kampus untuk mahasiswa baru pun nanti juga diarahkan untuk melakukan persiapan belajar secara daring. 

Kustamar mengakui, pembelajaran daring yang dilaksanakan sebelumnya masih belum 100 persen sempurna.

"Jelas ada proses. Terlebih lagi kita ramai-ramai masih mau berangkat ke era revolusi industri 4.0. Maka tentu banyak yang kurang, terutama kebiasaan," ungkapnya.

Kendala daring ini tak hanya berasal dari mahasiswa yang merasa kurang bebas berkomunikasi dengan dosen. 

Namun juga dosen yang tidak bisa menyampaikan materi sebebas dan selancar sebelumnya tatkala tatap muka.

"Sehingga dari evaluasi itu kita selama 2 bulan yang akan datang ini, bulan Juli dan Agustus, akan menyiapkan materi pembelajarannya dosen-dosen," pungkasnya.