Gubernur Jatim Khofifah bersama Ketua DPRD Jatim Kusnadi
Gubernur Jatim Khofifah bersama Ketua DPRD Jatim Kusnadi

Rupanya belum semua daerah di Jatim siap dan menyediakan ruang observasi untuk penanganan Covid-19. 

Ruang observasi ini diperlukan bagi mereka yang baru tiba dari luar daerah, baik dari luar negeri maupun luar provinsi seperti pusat episentrum Covid-19 di Indonesia yaitu, Provinsi Jakarta.


Berdasarkan data dari Satgas Percepatan Penanganan Covid-19 Jatim, beberapa daerah zona merah ternyata belum banyak menyediakan ruang observasi berbasis desa/kelurahan dan kecamatan. Bahkan masih ada yang di bawah 20 Persen.


Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa mencontohkan Kota Surabaya dengan status zona merah dan menjadi pusat episentrum sebaran covid-19 di Jatim dengan 250 orang positif, ternyata baru 27 kelurahan yang memiliki ruang observasi. Padahal total jumlah kelurahan di Surabaya ada 127, sehingga presentasinya baru 17,5 %.


“Begitu juga di Kabupaten Malang yang memiliki 378 desa dan 12 kelurahan, baru tersedia ruang observasi sebanyak 53 atau 14,3 %. Padahal jumlah pasien positif covid-19 ada sebanyak 16 orang, dimana 4 diantara sudah sembuh dan 1 meningal serta 11 sisanya masih dirawat,” kata Khofifah saat konferensi pers, Jumat (17/4/2020).


Hal ini kata dia justru berbanding terbalik dengan kabupaten/kota zona merah yang jumlah kasus positif covid-19 nya relatif lebih sedikiti. Presentasi ruang observasi berbasis desa/kelurahan sudah mencapai 100 persen. 


Dia mencontohkan Kabupaten Banyuwangi yang juga memiliki kasus positif covid-19. Sebanyak 3 orang, dimana 1 sudah sembuh dan 1 meninggal serta 1 masih dirawat, presentasinya sudah 100 persen. Padahal Banyuwangi memiliki 189 desa dan 28 kelurahan, namun di setiap desa dan kelurahan sudah ada.


Begitu juga di Kabupaten Trenggalek yang baru memiliki 1 kasus positif covid-19 ternyata sudah 100 %. Sebanyak 152 desa dan 5 kelurahan telah memiliki ruang observasi.


“Kendati demikian saya bersyukur karena grafiknya terus naik. Sekarang desa/kelurahan yang memiliki ruang observasi di Jatim mencapai 6.343 atau setara dengan 74,5 %. Jadi keikutsertaan pemerintah desa dan kelurahan harus terus ditingkatkan,” tegas mantan Mensos RI ini.


Ketersediaan ruang observasi ini sangat penting, sebab bagian upaya preventif untuk warga yang pulang kampung dari daerah episentrum sebaran covid-19. Contohnya seperti dari Jakarta maupun Pekerja Migran Indonesia dari Malaysia dan negara lainnya. Selain itu juga bisa digunakan untuk warga yang berstatus ODP yang membutuhkan ruang observasi.

Update perkembangan kasus sebaran Covid-19 di Jatim sendiri terbaru bertambah sebanyak 8 kasus. Sehingga total kasus positif Covid-19 di Jatim menjadi 522 kasus.

“Dari jumlah tersebut sebanyak 378 orang masih dirawat, lalu 92 orang atau setara 17,9 persen yang terkonversi negatif atau sudah sembuh. Dan 46 orang atau setara 8,95 persen yang meninggal dunia,” terang Khofifah.


Senada, Ketua DPRD Jatim Kusnadi menambahkan bahwa orang yang hendak pulang kampung tidak bisa dilarang oleh siapapun sebab mereka memang asli warga setempat.

“Makanya kita di provinsi sudah berkoordinasi dengan forkopimda kabupaten/kota. Kalau ada warga yang pulang kampung dari daerah zona merah dilakukan observasi atau isolasi selama 14 hari di kampung sendiri," ujarnya.

"Supaya mereka tetap bisa berhubungan dengan keluarga dan anak saudara. Makanya perlu ruang observasi karena tidak semua rumahnya besar dan bisa digunakan untuk ruang isolasi mandiri,” imbuh pria yang juga ketua DPD PDIP Jatim.