Ilustrasi (Istimewa).
Ilustrasi (Istimewa).

Nama Abdullah bin Sa’ad bin Abi Sarh tentu sudah banyak didengar oleh umat Islam diberbagai penjuru dunia. Karena dia adalah salah satu penulis wahyu sekaligus saudara sepersusuan Utsman bin ‘Affan ra.

Meski dikenal sebagai sosok yang dipercaya Rasulullah SAW, Abdullah dikisahkan pernah menjadi sosok murtad sekaligus dihalalkan untuk dibunuh. 

Namun pada akhirnya, Abdullah lolos dari titah tersebut dan kembali menjadi muslim setelah kembali mengucapkan kalimat syahadat.

Dr. Khalid Zeed Abdullah Basalamah, Lc., M.A. atau lebih dikenal sebagai Ustadz Khalid Basalamah menyampaikan, Abdullah bin Sa’ad bin Abi Sarh awalnya belum memeluk Islam. 

Namun pada akhirnya ia menemui hidayah dan mengucapkan kalimat syahadat.

"Dia memiliki tulisan yang bagus, kemudian Rasulullah memberi dia kesempatan untuk menuliskan wahyu," kata Ustadz Khalid Basalamah.

Saat itu, Abdullah menuliskan wahyu Allah SWT yang disampaikan kepada Rasulullah dengan memanfaatkan tulang unta hingga batu. Namun ada yang disalahpahami oleh Ibnu Abi Sarh ketika Rasulullah mendikte kata as-sami’ al-‘alim, Abdullah menulis al-‘alim al-hakim.

Rasulullah SAW saat itu berkomentar jika memang Allah memiliki sifat demikian. Namun, Abdullah salah paham dan mengira Rasulullah SAW membenarkan dirinya merubah al-Qur`an. Padahal Rasulullah SAW ingin menunjukkan bahwa itu memang termasuk dari al-asma al-husna.

Hingga suatu ketika, Abdullah berpamitan kepada Rasulullah untuk kembali ke Makkah menemui keluarganya. Namun sayangnya, saat berada di Makkah Abdullah menyatakan diri sebagai orang yang murtad.

Abdullah menyebarkan kabar jika ia telah merubah wahyu yang telah ia tulis selama ini. Kabar itu kemudian didengar Rasulullah SAW dan Rasulullah pun menyampaikan jika Abdullah telah murtad. Rasulullah pun kemudian memerintahkan agar Abdullah dibunuh.

Abdullah kemudian menjadi sosok yang paling dicari. Hingga suatu hari saudaranya, Utsman bin ‘Affan ra bertemu dengan Abdullah. Saat itu Abdullah merasa ketakutan dan terus bersembunyi. Ustman pun mengajak saudaranya itu untuk bertemu Rasulullah SAW dan meminta maaf.

"Saat itu Abdullah takut dibunuh, lalu Ustman menyarankan untuk kenakan cadar," tambahnya.

Hingga akhirnya Abdullah dan Ustman tiba di perkemahan Rasulullah SAW. 

Saat itu, Rasulullah tengah berbincang dengan beberapa sahabat. Seorang sahabat pun mengutarakan janjinya untuk memenggal kepala Abdullah di manapun keberadaan Abdullah.

Namun kemudian Utsman menyampaikan jika Abdullah berada di sisinya. Utsman pun meminta tolong agar Rasulullah SAW memaafkan saudaranya tersebut dan menerima Abdullah untuk kembali memeluk Islam.

Saat itu, Rasulullah SAW menolak uluran tangan Abdullah hingga permintaan Ustman yang ke tiga. Pada akhirnya, permintaan Ustman yang ke empat pun diterima dan menuntun Abdullah melantunkan kalimat syahadat.

"Akhirnya permintaan ke empat Utsman meminta sembari berkata 'Ya Rasul, terimalah demi saya' dan diulurkan tangan Abdullah, lalu Rasulullah menerimanya," terang Ustadz Khalid.

Taubat Abdullah juga diceritakan disertai dengan ketulusan daei Abdullah sendiri. Sehingga pada akhirnya taubatnya diterima dan melaksanakan keislaman secara baik. 

Pada zaman Utsman bin ‘Affan ra, Abdullah diangkat menjadi Komandan Angkatan laut, serta berperan dalam jihad di benua Afrika dan Laut Mediterania.