Pemkab Malang kuatkan para Juleha dalam menghadapi hari idul adha datang (Ist)
Pemkab Malang kuatkan para Juleha dalam menghadapi hari idul adha datang (Ist)

Tinggal hitungan pekan, para Juleha atau juru sembelih hewan halal akan "beraksi". Dimana, peran para Juleha di 33 kecamatan di Kabupaten Malang pada Hari Raya Idul Adha, akan menentukan terhadap kelayakan hewan qurban yang akan disembelihnya.

Apakah telah sesuai dengan syariat Islam, sehat dan aman dikonsumsi bagi para penerima qurban, sampai pada uji coba program pemerintah terkait pembatasan penggunaan kantong (kresek) plastik.

Peran penting Juleha inilah yang sejak dini terus dikuatkan dalam keterampilan dan pemahaman yang lebih mendalam oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang.

Melalui Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan), sekitar 40 Juleha yang merupakan takmir masjid di 33 kecamatan, kembali dibekali dengan berbagai materi dan praktik langsung yang dibutuhkan pada saat Hari Idul Adha, beberapa hari lalu.

"Sudah kita lakukan pembekalan kepada para Juleha di 33 kecamatan di Kabupaten Malang. Harapannya, para Juleha ini nantinya yang bisa juga menukarkan pengetahuannya pada masyarakat di wilayahnya terkait tata cara penyembelihan hewan qurban," kata drh Woro Ambarrukmi Kepala Bidang Kesehatan Hewan Disnakeswan Kabupaten Malang.

Peran Juleha, lanjut Woro, sangat penting untuk memastikan terkait hewan qurban. Baik dari sisi agama terkait penyembelihannya, penanganan penyakit hewan bila ditemukan, penggunaan wadah daging, sampai pada persoalan adanya larangan jenis hewan yang akan dijadikan qurban.

"Peran mereka sangat penting, karenanya kami berusaha memberikan pembekalan terkait berbagai hal itu. Misalnya, mengenai adanya aturan yang melarang menyembelih ternak ruminansia (hewan memamah biak) kecil betina produktif atau ternak ruminansia besar betina produktif," ujarnya.

Dalam Undang-Undang (UU) Nomor 41 Tahun 2014 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan pasal 18 ayat (4), menyebutkan setiap orang dilarang menyembelih ternak ruminansia kecil betina produktif atau ternak ruminansia besar betina produktif. 

Aturan ini diperkuat dengan adanya Peraturan Daerah (Perda) Provinsi Jawa Timur (Jatim) nomor 7 tahun 2018 tentang perubahan atas Perda Provinsi Jatim nomor 3 tahun 2012 tentang Pengendalian Ternak Sapi dan Kerbau Betina Produktif.

Woro menegaskan, hal itu sangat penting untuk dipahami para Juleha maupun masyarakat yang akan melaksanakan qurban. "Pasalnya, ada sanksi bagi yang melanggarnya. Karena itu kita sampaikan dan juga telah kita siarkan kepada para takmir masjid di wilayah Kabupaten Malang," ucapnya.

Terkait kasus tahunan dalam Idul Adha, yakni persoalan hewan-hewan qurban yang terkena penyakit juga menjadi bagian dalam pembekalan kepada Juleha. Dimana, masih saja ditemukan adanya penyakit cacing pita atau hati pada hewan qurban.

”Kami juga memberikan pengetahuan tentang penyakit-penyakit pada hewan. Misalnya, hati yang terkena cacing harus diapakan. Dan hal lainnya, sehingga daging rusak atau tidak sehat tidak sampai beredar ke masyarakat,” ungkap Woro.

Tak kalah penting adalah mengenai cara menyembelih hewan qurban. Bukan hanya harus benar, tapi juga para Juleha dituntut sesuai dengan syariat Islam. Hal ini juga ditegaskan oleh drh Iskandar Muda, asesor nasional juru sembelih halal dari Balai Besar Pelatihan Peternakan (BBPP) Kota Batu.

Iskandar menyampaikan, di masyarakat masih banyak yang menyembelih hewan, tapi belum mati sudah dikuliti. "Ini masih banyak ditemukan. Hewan belum mati 100 persen tapi sudah dikuliti. Belum mati sempurna, sehingga di dalamnya masih banyak darah. Padahal darah tidak boleh kita makan,” ucapnya.

Dirinya juga mengatakan, penyembelihan yang thayyiban adalah sekali iris di bawah jakun. "Setelah mati sempurna, baru dikuliti dan diambil dagingnya," imbuh Iskandar.

Hal terpenting lainnya adalah penggunaan tempat daging yang akan dibagikan kepada yang berhak menerima qurban. Dimana, pemakaian tas (kresek) plastik telah menjadi hal yang dianggap lumrah dimanapun. Padahal, pemerintah sedang berupaya keras dalam meminimalisir pemakaian tas plastik dalam berbagai aktivitas apapun.

Hari Raya Idul Adha pun, dipilihnya untuk menguatkan program pembatasan tas (kresek) plastik. Dimana, Pemkab Malang meminta tas kresek yang biasanya dipakai untuk diganti dengan besek (keranjang dari anyaman bambu, red) dengan alas daun pisang. Atau dengan tempat lainnya yang tidak berbahan plastik dan sekali pakai.

"Ini yang kita juga tekankan kepada para Juleha sebagai bagian dalam mendukung program pengurangan kresek plastik," pungkas Woro.