Bediding Makin Terasa Jelang Puncak Kemarau, Ini Tips Agar Tetap Nyaman Menghadapinya
Reporter
Mutmainah J
Editor
Sri Kurnia Mahiruni
17 - Jul - 2026, 06:22
JATIMTIMES - Musim kemarau biasanya identik dengan cuaca terik dan suhu panas, terutama pada siang hari. Namun, masyarakat di sejumlah wilayah Indonesia, khususnya Pulau Jawa, justru merasakan udara yang lebih dingin saat malam hingga pagi hari.
Fenomena udara dingin tersebut dikenal dengan istilah bediding. Kondisi ini kembali dirasakan ketika musim kemarau berlangsung dan diperkirakan akan semakin terasa menjelang puncaknya pada Agustus.
Baca Juga : Ingin Coba Snorkeling Terbaik di Bali? Ini Tempatnya!
Meski suhu udara mengalami penurunan cukup signifikan, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa bediding bukan termasuk cuaca ekstrem. Fenomena tersebut merupakan kondisi alam yang normal terjadi saat musim kemarau, terutama di wilayah Indonesia bagian selatan.
Apa Itu Fenomena Bediding?
Mengutip penjelasan BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur, bediding merupakan kondisi ketika suhu udara terasa lebih dingin dibandingkan biasanya pada musim kemarau.
Istilah bediding berasal dari bahasa Jawa yang menggambarkan kondisi udara yang terasa dingin atau menusuk. Dalam kehidupan masyarakat, istilah ini digunakan untuk menyebut penurunan suhu udara yang sering terjadi pada malam hari hingga menjelang pagi.
Fenomena tersebut terjadi karena saat musim kemarau langit cenderung lebih cerah dan minim tutupan awan. Akibatnya, panas dari permukaan bumi lebih cepat dilepaskan ke atmosfer pada malam hari sehingga suhu udara menjadi lebih rendah.
Berdasarkan catatan BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur, suhu terendah di Jawa Timur dalam kurun waktu 30 tahun terakhir pernah mencapai 11,4 derajat Celsius pada Agustus 1994. Data tersebut menunjukkan bahwa udara dingin saat musim kemarau merupakan fenomena yang berulang dan telah lama terjadi.
Wilayah yang Berpotensi Mengalami Bediding
Fenomena bediding umumnya dirasakan di wilayah Indonesia bagian selatan yang memasuki musim kemarau. Beberapa daerah yang sering mengalami kondisi ini antara lain:
• Jawa Timur
• Jawa Tengah
• Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY)
• Sebagian wilayah Jawa Barat
• Bali
• Nusa Tenggara Barat (NTB)
• Nusa Tenggara Timur (NTT)
Daerah pegunungan dan dataran tinggi biasanya merasakan dampak lebih kuat karena memiliki suhu udara yang lebih rendah dibandingkan kawasan dataran rendah.
Dalam kondisi tertentu, wilayah dataran tinggi juga dapat mengalami munculnya embun es atau frost. Fenomena tersebut beberapa kali terjadi di kawasan seperti Bromo dan Dieng ketika suhu turun hingga mendekati titik beku.
Baca Juga : Donald Trump Dijadwalkan Hadiri Final Piala Dunia 2026 Spanyol vs Argentina di MetLife Stadium
Kapan Puncak Bediding Terjadi?
Menurut BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur, fenomena bediding biasanya berlangsung selama periode musim kemarau, yakni sekitar Juni hingga September.
Meski udara dingin sudah mulai dirasakan sejak awal musim kemarau, intensitas bediding umumnya meningkat saat memasuki Agustus. Pada periode tersebut, suhu udara malam hingga pagi hari berpotensi mencapai titik terendah.
Di sejumlah daerah dataran tinggi, kondisi udara dingin bahkan dapat bertahan hingga September, tergantung perkembangan musim kemarau dan kondisi atmosfer di wilayah masing-masing.
Tips Menghadapi Cuaca Dingin Saat Bediding
Agar tetap nyaman dan menjaga kondisi tubuh selama fenomena bediding berlangsung, masyarakat dapat melakukan beberapa langkah sederhana. Berikut tips menghadapi udara dingin saat musim kemarau:
1. Gunakan pakaian hangat saat malam dan pagi hari
Kenakan jaket, sweater, atau pakaian berlapis ketika beraktivitas pada waktu suhu udara mulai turun.
2. Jaga kondisi tubuh dengan pola hidup sehat
Konsumsi makanan bergizi, minum cukup air, serta pastikan waktu istirahat tetap terpenuhi agar daya tahan tubuh terjaga.
3. Lindungi tanaman yang rentan terhadap suhu rendah
Bagi masyarakat yang tinggal di daerah pertanian atau dataran tinggi, tanaman tertentu dapat diberi perlindungan menggunakan naungan atau plastik mulsa untuk mengurangi risiko kerusakan akibat suhu dingin.
4. Pastikan kandang ternak tetap terlindungi
Peternak disarankan memastikan kandang memiliki perlindungan yang cukup agar hewan ternak tidak terlalu terpapar udara dingin.
5. Pantau informasi cuaca dari BMKG
Masyarakat diimbau rutin mengikuti perkembangan informasi cuaca resmi dari BMKG untuk mengetahui kondisi atmosfer dan potensi perubahan cuaca selama musim kemarau.
Fenomena bediding menjadi salah satu ciri khas musim kemarau di sejumlah wilayah Indonesia. Meski membuat udara terasa lebih dingin dari biasanya, kondisi ini merupakan bagian dari siklus alam yang dapat diantisipasi dengan persiapan sederhana.
