Bikin Resah, Baliho Film Aku Harus Mati di Malang Diminta Diturunkan
Reporter
Binti Nikmatur
Editor
Sri Kurnia Mahiruni
05 - Apr - 2026, 06:34
JATIMTIMES - Poster film horor terbaru Aku Harus Mati ramai jadi perbincangan di media sosial. Di Kota Malang, sejumlah warga bahkan meminta materi promosi film tersebut diturunkan karena dinilai meresahkan dan tidak sensitif dengan isu kesehatan mental.
Salah satu titik yang jadi sorotan berada di kawasan pertigaan Masjid Sabilillah, Malang dan Jalan Basuki Rahmat. Poster dengan tulisan besar Aku Harus Mati itu terlihat terpampang di ruang publik. Sementara latar gambarnya berupa makhluk berwarna biru dengan mata merah, serta visual mata berdarah yang dianggap cukup mengganggu.
Baca Juga : Sinopsis Dilan ITB 1997: Peran Ariel NOAH Tuai Pro Kontra hingga Dialog Soeharto Viral
Unggahan akun Instagram @infomalangraya_ pada akhir pekan ini ramai menuai kritik. Banyak yang menilai kalimat pada poster tersebut terlalu provokatif, apalagi dikaitkan dengan kondisi psikologis sebagian masyarakat.
Warganet lain juga menilai penempatannya di jalan raya dan ruang terbuka kurang tepat. Sebagian bahkan menyebut tulisan tersebut bisa menjadi trigger bagi orang yang sedang memiliki masalah kejiwaan.
“Jarene Malang darurat bunuh diri, malah memotivasi,” ujar akun @basma_rosandi_prak* dalam kolom komentar unggahan @infomalangraya_, Minggu (5/4/2026).
Komentar lain juga bernada sindiran.
“Gantien aku harus jadi walikota,” ujar akun @huseinri*.
Ada pula yang menilai promosi film seperti ini sudah kelewat. “Aduh, harusnya diturunin sih, mana Malang tingkat bundirnya tinggi,” ujar akun @apotekm***.
Tak sedikit juga yang mengkritik tren film horor yang dinilai semakin berlebihan.
“Film makin hari makin gak mutu... horrooooor mulu, goreeeeeee mulu....,” ujar akun @dimasanggaprad*.
Untuk diketahui, Film Aku Harus Mati sendiri dijadwalkan tayang serentak di bioskop Indonesia mulai 2 April 2026. Dibintangi Hana Saraswati, film ini mengusung genre horor psikologis dengan cerita yang cukup gelap.
Tokoh utamanya, Mala, diceritakan sebagai yatim piatu yang terlilit utang pinjaman online karena gaya hidup hedon. Cerita kemudian berkembang saat ia kembali ke panti asuhan dan mulai diteror kejadian-kejadian mistis yang mengancam nyawanya.
Baca Juga : Rayakan Paskah di Rumah: 8 Aktivitas Seru Bersama Keluarga yang Wajib Dicoba
Namun di luar jalan cerita, yang justru lebih ramai dibahas adalah materi promosinya. Tak hanya di Malang, baliho film ini juga ramai diperbincangkan di berbagai kota. Termasuk di Jakarta.
Satpol PP DKI Jakarra bahkan telah menurunkan tiga baliho promosi film tersebut. Penertiban itu dilakukan di wilayah Jakarta Barat dan Jakarta Pusat.
Kritik juga datang dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI). PDSKJI menyampaikan keprihatinan resmi terkait materi promosi yang dinilai bernuansa keputusasaan.
“Paparan berulang pesan tentang kematian dan keputusasaan tanpa konteks yang tepat dapat meningkatkan distres, kecemasan, dan berpotensi menjadi pemicu bagi mereka yang memiliki riwayat depresi atau ide bunuh diri,” ujar Humas PP PDSKJI dalam rilis resminya, dikutip Minggu (5/4/2026).
PDSKJI menilai ekspresi seni tetap penting, namun tetap harus mempertimbangkan dampak psikologis bagi masyarakat.
“Ekspresi seni tetap penting, namun perlu berjalan seiring dengan empati dan kesadaran akan dampaknya,” pungkas PDSKJI.
