Awas! Indonesia Diprediksi Dilanda Panas Ekstrem Mulai April 2026
Reporter
Binti Nikmatur
Editor
Sri Kurnia Mahiruni
14 - Mar - 2026, 03:09
JATIMTIMES - Masyarakat Indonesia diminta bersiap menghadapi suhu udara yang lebih panas dari biasanya dalam beberapa bulan ke depan. Wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia, diperkirakan akan mengalami awal musim panas yang lebih terik pada 2026.
Prediksi ini disampaikan oleh ASEAN Specialised Meteorological Centre (ASMC) atau Pusat Meteorologi Khusus ASEAN. Lembaga tersebut memperkirakan suhu di kawasan Asia Tenggara akan berada di atas rata-rata normal selama periode Maret hingga Mei 2026.
Baca Juga : Panduan Lengkap Salat Idulfitri 2026: Niat, Bacaan, Tata Cara hingga Doa
Bahkan, untuk wilayah Indonesia dan Malaysia, peluang terjadinya suhu di atas normal diperkirakan mencapai 80 hingga 100 persen.
Berdasarkan laporan yang dikutip dari The South China Morning Post, kondisi panas yang tidak biasa diperkirakan pertama kali akan terasa di Indonesia dan Malaysia.
Setelah itu, suhu panas diprediksi akan meluas ke sebagian besar wilayah daratan Asia Tenggara dalam waktu sekitar dua bulan berikutnya.
Selain Indonesia, sebagian besar wilayah Thailand dan Vietnam bagian utara juga diperkirakan akan mengalami suhu yang lebih panas dari biasanya.
Sementara itu, hanya beberapa wilayah yang diprediksi memiliki suhu mendekati kondisi normal. Wilayah tersebut antara lain Vietnam Tenggara, Kamboja, serta sebagian wilayah Filipina.
Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga memproyeksikan bahwa musim kemarau tahun 2026 akan datang lebih cepat di banyak wilayah Indonesia. BMKG mencatat, awal musim kemarau diperkirakan lebih cepat di 325 Zona Musim atau sekitar 46,5 persen wilayah Indonesia.
Selain itu, 173 Zona Musim atau 24,7 persen wilayah diprediksi mengalami musim kemarau sesuai jadwal normal, sementara 72 Zona Musim atau sekitar 10,3 persen wilayah lainnya diperkirakan mengalami kemarau lebih lambat.
Wilayah yang diprediksi lebih cepat memasuki musim kemarau meliputi sebagian besar Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan bagian selatan dan timur, sebagian besar Sulawesi, Maluku, hingga beberapa wilayah di Papua.
BMKG juga memperkirakan puncak musim kemarau pada tahun 2026 akan terjadi pada Agustus.
Pada periode tersebut, suhu panas diprediksi terasa cukup kuat di sejumlah wilayah, terutama Kalimantan dan Sulawesi.
Memasuki September, suhu tinggi masih diperkirakan terjadi di beberapa wilayah seperti Sulawesi bagian utara dan timur serta sebagian wilayah Maluku.
BMKG memproyeksikan sifat musim kemarau 2026 akan lebih kering dibandingkan kondisi normal di banyak wilayah Indonesia.
Baca Juga : Cara Membuat Stiker atau Twibbon Lebaran 2026 di ChatGPT, Cocok Dibagikan untuk Jelang Hari Raya
Data BMKG menunjukkan 451 Zona Musim atau sekitar 64,5 persen wilayah Indonesia diprediksi mengalami kemarau lebih kering dari biasanya.
Sementara itu, 245 Zona Musim atau sekitar 35,1 persen wilayah diperkirakan mengalami kemarau normal.
Hanya tiga Zona Musim atau sekitar 0,4 persen wilayah yang diprediksi mengalami musim kemarau lebih basah dari biasanya, yakni di wilayah Gorontalo dan Sulawesi Tenggara.
Selain itu, durasi musim kemarau di sekitar 57,2 persen wilayah Indonesia diperkirakan akan berlangsung lebih lama dibandingkan kondisi normal.
Menghadapi potensi kemarau yang lebih kering dan panjang, BMKG mengingatkan pentingnya langkah antisipasi sejak dini.
Salah satu sektor yang perlu bersiap adalah sektor pertanian. Petani diimbau menyesuaikan jadwal tanam serta memilih varietas tanaman yang lebih tahan terhadap kondisi kering.
Selain itu, penggunaan varietas tanaman yang lebih hemat air dan memiliki siklus panen lebih singkat juga menjadi salah satu strategi yang disarankan.
Di sisi lain, pengelolaan sumber daya air juga perlu diperkuat. Hal ini dapat dilakukan dengan mengoptimalkan tampungan air serta memperbaiki sistem distribusi air.
Pihak berwenang juga diminta meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi penurunan kualitas udara serta mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan yang biasanya meningkat saat musim kemarau panjang.
Dengan berbagai langkah antisipasi tersebut, diharapkan dampak musim kemarau yang lebih panas dan kering pada 2026 dapat diminimalkan.
